Senin, 12 Mei 2008

ELEGI DUA HATI

( suara hati adalah suara kebenaran meski tak harus dituruti. Pernahkah terbayangkan dua hati yang tengah gundah terbang melakukan pengembaraan ??????????????????)


Malam takkan sepanjang ini
Jika sebuah bintang membawamu ke sini
Menguncimu di hatiku, tak lagi tergapai
Oleh pemilikmu sekalipun
Jemput aku…
Antar aku…
Pada sebuah mimpi tentang istana kecil
Dengan nama kita dipintunya
Mengapa selalu tak pernah ada bintang jatuh saat
Tahu apa yang aku ingini malam ini?


Dua hati tengah mengembara dalam kelamnya malam pias. Ada satu ritme kegundahan yang membuat keduanya harus melakukan ritual perjalanan yang sangat melelahkan. Kian malam detaknya kian tak beraturan, seperti roda yang ingin menggilas peristiwa-peristiwa yang ingin dilumatnya. Berdua mereka terbang mengelilingi jagad raya tanpa bersentuhan, tanpa bicara dan tanpa kata meskipun tujuan mereka adalah sama. Ingin melempar kegundahan rasa masing-masing ke jurang jauh yang tak tersentuh siapapun. Satu hati milik Esa terbang mengitari langit kelam belahan dunia timur dan satu lagi hati Anja berakrobat menarikan gerak tari kebimbangan jauh di seberang Barat. Seperti layaknya Adam dan Hawa yang rela berpisah demi kesucian cinta, dan sumpah seorang kesatria yang pantang untuk dinodai oleh kenistaan dan nafsu sesaat. Kedua hati tetap meneruskan pengembaraan mereka jauh dari peradaban dunia manapun.

Hati Esa adalah hati seorang lelaki yang sepertinya sedang terpanah bisa dari seorang Hawa. Sedang Hati Anja adalah hati perempuan biasa yang kadang seperti membatu karena merasakan betapa dukanya harus berpisah dengan Adam yang sangat dia cinta, namun terpaksa dia harus lakukan karena Anja wanita baja yang pantang menelan ludah sendiri, meski jauh di dasar hatinya kegundahan beban rindu kian tak tertahankan. Semakin dia terbang menjauh semakin terasa magnet hati Esa menariknya seperti gravitasi bumi yang tak rela harus terus menerus berjauhan.

Lelah, penat, jemu itu yang dirasakan hati Anja dalam pengembarannya. Dia tersungkur dalam pekatnya malam yang bisu tanpa kata.
Jauh di seberang timur sepotong hati Esa juga merasakan hal yang sama. Ternyata begitu melelahkan ketika harus melakukan pengembaraan semu sendirian. Tak mudah untuk untuk saling melepaskan ikatan yang terlanjur mengukir tajam dalam curamnya hati masing-masing. Hati Esa melenguh dan meneriakkan kegundahannya di jelantara malam. Hati Anja seperti penari ballet yang kebingungan karena terlepas sepatu balletnya yang harus digunakan untuk beromantisme dengan pengagumnya malam ini. Lenguhan dan teriakan memenuhi ruang hampa, sepi dan hanya suara –suara alam yang bisa di rasa oleh kedua hati. Teriakan dan lenguhan kesal akhirnya membuat keduanya berpapasan dan jatuh terkulai.

Dan pada titik kulminasi maya akhirnya mereka bertemu dalam satu tempat yang sangat wingit dan tak tersentuh oleh makhluk apapun kecuali hanya mereka berdua, setelah mereka lelah dan kehabisan tenaga untuk saling berdiam diri.

Hati Esa : Kenapa kau mencoba melepaskan ikatan tali yang telah susah payah kita rangkai setiap hari?
Hati Anja : Aku tak pernah sungguh – sungguh hendak melepaskan. Kau tau ini kehendak otak Anja bukan aku. Karena Aku hanya sebentuk hati yang hanya bisa merasakan tanpa mampu berbuat apapun.
Hati Esa : Apa kau sudah pernah tanyakan pada otak Anja mengapa dia tega membuat kita sengsara, kesepian dalam pengembaraan?
Hati Anja : Sudah.
Hati Esa : Kenapa dia tega?
Hati Anja : Dia bilang ini bukan rekayasa dia, tapi otak Esa telah memberikan ide yang menantangnya untuk sebuah petualangan. Dan setiap petualangan pasti akan berakhir dengan seru.
Hati Esa : Hanya demi sebuah petualangan otak Anja tega membuat kita sengsara ?
Hati Anja : Bukan, bagi otak Anja ide sama dengan tantangan. Tantangan adalah tetap tantangan yang harus bisa dibuktikan ketangguhannya?
Hati Esa : Ketangguhan apa yang bikin kita seperti mandul dalam penjara tanpa kawan?
Hati Anja : Kekuatan rasa yang kita miliki. Apa benar kita sudah saling terikat atau sekedar saling berkamuflase sesaat untuk saling menarik dan menguasai diantara kita.
Hati Esa : Ah aku tak paham bahasamu. Terlalu bombastis, sok sastrais membuat aku puyeng keliyengan.
Hati Anja : Ya, kau tak harus mengerti apa yang kumaksudkan. Kau hanya boleh tau apa benar aku adalah bagian dari belahanmu dan kamu adalah bagian dari belahanku. Sehingga belahan-belahan kita akan menyatu menjadi sebuah kuncup bunga yang indah dan akan menyenangakan Esa dan Anja karena kita menjadi bunga yang sangat elok.
Hati Esa : Kita tak akan pernah bermetamorfosis menjadi bunga karena itu kemustahilan. Kau jauh di atas awan dan aku jauh di dasar lautan. Apa mungkin kuncup akan tumbuh jika bungasari tak pernah terjamah oleh putik. Ah, kamu terlalu bertele-tele.
Hati Anja : Sabar, sabar kamu tahu kan Anja dan Esa suka sekali bicara seperti itu pada kawan-kawannya. Mengapa kita tak belajar dari ucapan-ucapan mereka agar kita tak terus-menerus berseberangan?
Hati Esa : Iya tapi aku hati lelaki. Lelaki identik dengan ketegasan. Satu ditambah satu hasilnya harus dua. Aku tak suka ngeles atau memperpanjang jarak petualangan diantara kita. Buat apa melakukan perjalanan yang sia-sia.
Hati Anja : Itulah bedanya hati lelaki dan hati perempuan. Selalu ada kutub yang berlawanan. Bagus, aku suka ketegasan. Tapi kau harus belajar betapa susah payahnya aku untuk mengejar kemauanmu. Sedikit lambatkanlah perjalananmu. Tunggu sampai aku benar-benar yakin kalau kau memang teman yang baik untuk sama-sama berlabuh di lautan luas bukan hanya sekedar berpetualang untuk persinggahan sementara. Kali ini kau pasti tau maksudku kan?
Hati Esa : Ya, aku mencoba menyelami apa yang kau maksudkan. Tapi bagaimana dengan otak Anja dan Esa apa mereka bisa setuju dengan pendapat kita. Bagaimana dengan anggota tubuh yang lain apa mereka mau mendukung ide gila kita untuk terbang berdua sambil terus bergandengan, sementara mereka paham betul apa yang tengah terjadi di dunia Anja dan Esa.
Hati Anja : Kita coba. Kita harus berdamai dengan mereka. Kita harus berjuang berdua untuk meyakinkan mereka. Kita pasti bisa. Kau pasti ingat ketika suatu masa kita menggerakkan anggota tubuh lain untuk mendukung kita bertemu pada sore itu. Kau ingat?
Hati Esa : Iya aku ingat. Aku mampu menggerakkan otak untuk menyiapkan pasukan anggota tubuh lain mendukung kita. Mata rela kelelahan hanya karena harus menahan kerasnya rasa ingin bertemu, anggota –anggota tubuh yang lain harus merelakan kedinginan demi melihat kita tersenyum sore itu. Kau benar.
Hati Esa tersenyum kecil membayangkan betapa hebatnya dia yang telah mampu menggerakkan seluruh kekuatan dalam tubuh Anja untuk sekedar menemaninya menemui hati Anja di suatu sore yang tak terduga.
Hati Anja : Itu yang kumaksud, kita harus memiliki kekuatan lebih untuk mengatur strategi agar semua anggota tubuh lain rela berjuang demi kita. Demi Anja dan demi Esa.
Hati Esa : Aku setuju. Lalu kapan kita akan melakukan missi kita?. Sudah tak sabar aku untuk melihat pesta meriah suka duka Anja dan Esa.
Hati Anja : Sabar, kita harus persiapkan juga diri kita sendiri. Kita letakkan kembali posisi kita yang benar. Jangan sampai ada penyesalan yang justru membuat kita menjerumuskan anggota tubuh lain untuk mati suri atau bahkan terluka yang berkepanjangan.
Hati Esa : Waduh, persiapan apalagi sih?. Kalau kita sudah setuju kita tinggal perintahkan anggota tubuh yang lain untuk bergerak sesuai kemauan kita.
Hati Anja : Kamu benar, kita tinggal menggerakkan mereka sesuka kita, tapi apa kita rela kalau keputusan kita yang terburu-buru ternyata akan berakibat fatal dan justru akan membuat kita semakin terpisah?. Kamu harus ingat, di sekitar kita ada hati yang lain, yang terlanjur mengisi ruang hatimu.
Hati Esa : Ah kamu, dasar hati perempuan terlalu banyak pertimbangan. Bagaimana kita bisa segera melangkah jika dari kemarin kita hanya persiapan dan persiapan. Sudah mendingan kita tak usah merencanakan apapun. Toh kamu sudah tau kalau aku sudah berniat mengosongkan ruangan-ruanganku untuk kusediakan buat peraduan kita.
Hati Anja : oh, begitu. Itu maumu. Dasar hati lelaki. Tak pernah bisa berkompromi dengan hati perempuan.tidak semudah itu jika kita ingin menyatukan diri kita.
Mereka berdua tiba-tiba terjebak pada emosional masing-masing, setelah kelelahan begitu hebatnya mendera mereka berdua.
Hati Esa : Aku tau kamu marah. Tapi kamu harus tau aku tak suka bertele-tele. Aku suka ketegasan.
Hati Anja : Aku juga tau kamu tak suka menunggu, tapi kita butuh waktu.
Hati Esa : Terus sekarang bagaimana?.
Hati Anja : Kita berjalan bersama terus sambil mengatur strategi agar kita tak kian jauh, tak usah banyak bicara dulu. Yang penting kita harus tetap berjuang agar kita sama-sama bisa lepas dari kutukan.
Hati Esa : Kutukan apa lagi?
Hati Anja : Kutukan rasa. Karena dia tumbuh tanpa permisi pada kita, dia menempati ruang dalam hati kita yang belum kita persiapkan, sehingga semua harus menerima hukuman akibat ulahnya.
Hati Esa : Baik aku setuju. Sekarang kita harus selalu berjuang bersama-sama meski tempat kita jauh berbeda. Kita harus terus berjuang untuk menemukan jalan baru buat pertemuan kita.
Hati Anja : iya, malam ini aku akan memata-matai otak Anja yang mungkin sudah melakukan strategi untuk memisahkan kita.
Hati Esa : Siap, malam ini aku akan terus terjaga agar otak Esa tak berpikiran sadis buat membantai kebersamaan kita. Yakinkan semua anggota tubuh untuk saling memberikan dukungan buat kita.
Hati Anja : Iya kita pasti bisa. Dan kita akan bertemu lagi jika sebuah keajaiban benar-benar menyatukan kita seperti Tuhan telah menyatukan Adam dan hawa. Kita berpisah sekarang, hanya sementara. Sambil menunggu keajaiban segera hadir di tengah pesta pora kita.
Sejenak mereka tak bergeming. Hati Anja dan Esa kembali terpisah untuk sementara waktu. Lama mereka hanya terpaku, seperti enggan untuk saling berpisah. Mereka kembali bertarung di jelantara malam yang buta. Sambil terus menantikan keajaiban dan terus mencari tempat terindah untuk pertemuan mereka kelak. Mereka harus kuat, harus saling mendukung dan sekecil apapun komunikasi harus mereka bina agar jalan buntu yang menutup jalan pertemuan mereka cepat mereka temukan. Dan berdua mereka akan membuat pengumunan besar-besar tentang kembali bersatunya mereka tanpa adanya gangguan dari belahan hati manapun.
Kini mereka kembali menggelandang, tapi bukan tanpa tujuan. Mereka hanya melakukan ritual panjang untuk satu missi yang tak tertangkap mata siapapun kecuali mata tuhan dan mata hati mereka. Doa panjang mereka lantunkan dengan gagap, berharap Tuhan masih sudi mendengar.
TUHAN ANDAI MASIH MUNGKIN KAU SISAKAN TEMPAT BUAT KAMI, BIARKAN KAMI BANGUN KEMBALI ISTANA KECIL YANG PERNAH KAMI IMPIKAN. AGAR KAMI BISA LELAP DALAM DAMAI KASIH SEJATI, MESKI KAMI YAKIN MUNGKIN INI HANYA SEBUAH KEMUSTAHILAN ATAU RENGEKAN MAKHLUK KURCACI MACAM KAMI. AH TUHAN KAU PASTI PAHAM TANPA KAMI HARUS MENGAJARIMU BAGAIMANA ENGKAU BERTITAH KEPADA KAMI. SUNGGUH KAMI HANYA BISA MENGGANTANG ASA, YANG PERNAH KAU JANJIKAN PADA HATI YANG PUTIH, KARENA AKU YAKIN KAU TAK PUNYA SIFAT BUTA.

Ketika hari menyabdakan dua hati untuk memisahkan diri dan menitikkan satu elegi dua hati.
Tangerang, 30 April’08
Kami mencari temen usaha untuk olahraga paintball di kawasan Batam, prospek sangat menjanjikan. Bagi yang berminat harap menghubungi 0813-6474-8584
Mencari wartawan:
Kalau Anda penulis yang profesional, dapat bergabung bersama kami di Media PAB-Indonesia Grup. Baik webside maupun media cetak. Bagi anda yang berminat, silahkan menghubungi email kami di: redaksi@pab-indonesia.com
PAB-Indonesia, beredar secara nasional. Dulu bernama Koran Angkatan Bersenjata. Kini diubah dan dikelola oleh tenaga-tenaga profesional. Kalau pengin tahu lebih jauh tentang pab-indoneeia. silahkan buka http/www.pab-indonesia.com